Sabtu, 13 Agustus 2011

Hidup Saya 5: AFS Year! (1)

Tahun 2004, awal semester 2 kelas 2 SMA, saya berangkat ke Jepang untuk mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun.

Pertama kali saya tahu ada program pertukaran pelajar untuk SMA dari sebuah cerpen di majalah Kawanku, waktu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP (kalau nggak salah). Itu pun hanya sekilas membaca dan nggak pernah terpikirkan lagi. Cuma bersitan pikiran, “Wah, seru ya kayaknya kalau bisa mencoba menjalani kehidupan lain di luar negeri…” Nah, saat kelas 1 SMA, awal semester 2, secara nggak sengaja, saya lihat lagi sebuah poster yang ditempel Yayasan Bina Antarbudaya Bandung. Akan diadakan seleksi untuk program pertukaran pelajar ke luar negeri, dan dapat diikuti oleh siswa kelas 1 SMA. Wah, kesempatan.

Publikasi program ini di sekolah saya rupanya cukup booming saat itu, dan banyak teman-teman seangkatan yang juga mendaftar. Kami saling menyemangati untuk ikut di tengah kesibukan akademis dan Latihan Kepemimpinan Siswa yang luar biasa hectic. Melihat komposisi teman-teman yang mendaftar, melihat gimana gemerlapnya talenta mereka, saya nggak punya ekspektasi tinggi-tinggi. Saya hanya berpikir bahwa program ini menarik banget dan merasa kalau saya nggak mendaftar dan ikut seleksi, pasti saya bakal menyesal banget karena penasaran. Akhirnya saya mendaftar di menit-menit terakhir (dan ini entah kenapa berulang lagi beberapa kali di episode-episode kemudian kehidupan saya) dan mengikuti seleksi.

Ada tiga seleksi dengan sistem gugur di tiap tahapnya yang diadakan AFS-Yayasan Bina Antarbudaya chapter Bandung. Tahap pertama, diadakan di SMAN 3 Bandung, sekolah saya, terdiri atas tes tertulis pengetahuan umum, grammar bahasa Inggris, dan menulis esai dengan tema pilihan. Saat itu, kalau saya nggak salah, ada lebih dari 80 peserta seleksi, dan akan diambil setengahnya (again, CMIIW) untuk seleksi tahap 2. Soal-soal pengetahuan umumnya bener-bener seru, mulai tentang MTV sampai perdana menteri Selandia Baru jadi bagian pertanyaan; soal-soal bahasa Inggris-nya juga cukup menantang, saya percaya diri aja karena rasanya meskipun belum fluent, bahasa Inggris saya nggak jelek-jelek amat hehehe; dan menulis adalah jiwa saya, hobi saya! Jadi terlepas dari hasilnya gimana, I had fun. J

Ternyata, saya lulus ke tahap 2, bersama dengan banyak teman-teman yang lain, as predicted. Mengambil lokasi di SMP 7 Bandung, Jalan Ambon, tahap 2 terdiri atas tes lisan: wawancara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ada bermacam-macam pertanyaan yang diajukan pewawancara, mulai dari pertanyaan-pertanyaan untuk menggali karakter dan kepribadian, motivasi mengikuti program sampai pilihan negara yang diminati beserta alasannya. Saya jawab tanpa ragu: Inggris dan Jepang! Hehehe. Entah kenapa saya nggak berpikiran untuk memilih Amerika Serikat, negara favorit sepanjang masa. Hehe. Sayangnya sejak beberapa tahun sebelumnya Inggris udah nggak lagi jadi salah satu pilihan negara AFS, entah karena alasan apa. Aim saya jadi jelas deh: Jepang! Hehehe.

Kenapa Jepang?

Ada beberapa alasan. Alasan terdangkal (=p) adalah karena sejak kecil saya suka banget sepakbola, dan saat itu saya lagi asyik banget ngurus tim sepakbola kelas dan sekolah, juga ngabisin komik-komik sepakbola Jepang dan saya jadi penasaran banget gimana keberlangsungan sebenernya disana. (Hahaha, pada kenyataannya, akhirnya tujuan ini nggak bener-bener tercapai karena saya masuk sekolah khusus perempuan dan mereka nggak punya unit sepakbola). Alasan lain, ya tentu karena rasa penasaran yang nggak pernah tuntas, gimana negara mungil di sisi timur Asia itu bisa menjelma jadi raksasa ekonomi dunia dalam tempo yang nggak lama setelah porak-poranda karena bom Hiroshima dan Nagasaki. Saya juga pengen tahu gimana mereka bisa memadukan kekuatan kultur dan tradisionalisme ribuan tahun dengan kemajuan teknologi masa kini. Padanan apik yang mungkin nggak ada duanya di belahan lain bumi. J Saya yang masih banyak nggak benernya ini pengen belajar lebih berdisiplin, lebih total dan bersungguh-sungguh, lebih santun beretika, lebih baik hati. Naah, alasan-alasan ini, saya kira sedikit banyak tercapai. Insyaallah. J

Alhamdulillah, saya lulus lagi seleksi tahap 2. Saatnya mempersiapkan diri menyambut tahap 3. Dijelaskan panitia, tahap ketiga akan terdiri dari simulasi diskusi panel dan talent show. Kwek kwek kwek. Hahaha. Saya nggak punya bayangan diskusi panel akan jadi kayak gimana dan totally clueless tentang talenta yang bisa saya pertunjukkan. Bakat saya apa ya? Hahaha. Main alat music nggak bisa (kecuali recorder jaman SD :p), nari nggak mungkin (nggak mau dan mana bisa pula baru mulai latihan beberapa minggu sebelum hari seleksi? Belakangan waktu mempersiapkan performance seni untuk jadi delegasi ke Gunma University 2009 saya baru tahu kalau ini mungkin :p), sedangkan nyanyi? Hahaha, kalau untuk ngusir tikus sih saya berani unjuk gigi. :D Saya mulai rusuh. Tinggal beberapa teman satu sekolah yang tersisa di tahap ini dan mereka kayaknya adem tentram aja menyambut seleksi tahap 3. Saya mulai cari-cari informasi. Mereka mau perform apa?

Jawaban yang saya terima bermacam-macam: Tari Merak, tari Jaipong, main gitar, main biola, berakting, pencak silat, dan lain-lain. Saya bengong aja. Wuah, keren-keren beneeer. Dan saya masih clueless, nggak ada kemajuan ide tentang talenta apapun yang bisa saya pertunjukkan. Kondisi ini bertahan sampai beberapa hari sebelum seleksi, dan pada akhirnya membuat saya berpikir-pikir, apa mungkin jalan saya cuma sampai sini, yaa. Soalnya mentok, bener-bener nggak ada bayangan. Kakek yang sejak awal seleksi terus menyemangati dan bilang yakin saya bisa setidaknya sampai tahap nasional masih terus menyemangati. Engki tahu Teteh bisa. Saya nyengir aja tapi dalam hati menggeleng-geleng, nggak, saya nggak bisa.

Saya mulai pasrah tapi kemudian, dua hari sebelum seleksi, saya tiba-tiba berpikir ulang. Aah, kalau saya nggak mencoba saya nggak akan pernah tahu saya bisa atau nggak. Seperti lagu Fix You-nya Coldplay, “…but if you never try you’ll never know, just what you’re worth!” Lagian yang pengen pergi ke Jepang kan saya, yang pengen merasakan gimana rasanya menjalani kehidupan lain di luar negeri kan saya, jadiii saya harus berusaha! Pantang menyerah sampai garis finish! Hehehe.

Mulailah saya berpikir keras. Apa bakat saya? Dulu sih orang bilang, nulis. Tapi bakat nulis gimana menunjukkannya? Belakangan baru saya tahu dari pengalaman Pak Ahmad Fuady di buku Ranah 3 Warna bagaimana melakukannya. Oke, ganti pertanyaan: saya suka ngapain? Baca, nulis, dan…bicara. Hahaha. Dari jaman SD dulu saya selalu suka ngeliat kakak-kakak mahasiswa orasi saat demonstrasi dekat gedung MPR, jadi…kenapa…saya nggak orasi aja untuk talent show besok? Hehehe, serius! Dan jadi! Saya menemukan sebuah artikel yang bener-bener inspiring dan sesuai dengan kondisi saya di sebuah majalah CosmoGirl! yang saya pinjem di sebuah perpustakaan di deket Istiqamah—lupa nama jalannya :p.Tentang kepercayaan diri. Gimana, kemanapun kita menoleh, kapanpun, pasti adaaaa aja orang yang keliatan lebih daripada kita. Lebih cemerlang, lebih brilian, lebih pintar, lebih berprestasi, lebih cantik, lebih keren, lebih supel. Lebih segalanya! Dan itu membuat kita selalu tergoda dan terlarut untuk ngerasa minder pada akhirnya. Ngerasa kurang, feel inadequate. Tanpa kita sadari sebenernya cahaya itu ada di dalam, menunggu untuk dinyalakan, etc etc. Hehehe, udah nggak inget persis gimana kontennya, tapi intinya gitu semangatnya. Woke! Siaplah saya.

Hari seleksi datang juga. Bertempat di Japanese Language and Culture Center (JLCC) Jalan Sabang, seleksi diawali dengan diskusi panel pagi harinya dan talent show siang harinya. Saya udah lupa nih topik diskusi panelnya, tapi tentang mekanismenya, begini: kami dibagi beberapa kelompok dan tiap individu dalam kelompok kemudian diberi peran masing-masing, sebagai panelis dengan latar belakang berbeda-beda—itulah kenapa dinamakan diskusi panel. Saya ingat kesan saya setelah diskusi: saya nggak banyak bicara, saya nggak mendominasi diskusi, dan saya berusaha untuk focus pada goal diskusi instead. Tahun-tahun setelahnya, kalau saya renungkan ulang, kayaknya hal itu yang justru membuat saya lulus seleksi. ;) Hal ini saya terapkan juga saat mengikuti focus group discussion pada tahap final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional 2010. Dan, Alhamdulillah berhasil juga. J

Talent show siangnya! As predicted, penampilan teman-teman yang lain sangat mengesankan. Hehehe. Mau nggak mau, tiba juga saatnya saya maju. Melihat saya maju ke depan tanpa bawa apapun, minus alat music atau kostum tari atau pencak silat, dan nggak ada tanda-tanda ngatur nafas untuk tarik suara, kakak-kakak juri penasaran nanya, “Kamu mau ngapain, De?” Hehehe. Saya nyengir. “Saya…mau bicara, Kak!” Dan bicaralah saya! Orasi? Yah, dengan semangat berapi-api saat itu, meski tanpa speaker, bisalah disebut begitu. Hehe. Kakak-kakak juri itu speechless, bengong di awal, lalu lama-lama mulai larut dalam pembicaraan saya, ikut tertawa, dan bertepuk tangan di akhir. Hahaha. Bahkan kalau saya nggak halusinasi lihat, ada yang sampai berkaca-kaca. Hehehe, sangat mungkin sekali saya salah lihat. =p Mungkin, mereka bengong karena nggak menyangka bakal menemukan anak kecil aneh senekad itu, larut karena penasaran apa yang bakal dibicarakan, tertawa dan berkaca-kaca karena terharu akan kenekadan perjuangan saya, dan bertepuk tangan untuk seenggaknya menghargai perjuangan saya. Hehehe. Gapapalah, sampai sana saya udah ngerasa puas banget, karena udah berusaha dan melakukan apa yang saya bisa lakukan, terus maju dan nggak mundur. Aduh puas batinnya nggak terkira. Seleksi tahap 3 yang juga seleksi akhir tingkat chapter berakhir, kami dikabari akan diberi kabar lewat surat untuk pengumuman kelulusan karena selanjutnya seleksi akan berlanjut ke tingkat nasional, seleksi dokumen dan lain-lain. Kami diberitahu untuk berdoa tapi jangan terlalu nunggu pengumuman, khawatir kecewa nantinya. Nothing to lose. Siplah, saya kembali asyik dengan kesibukan akademis, persiapan MOS dan suksesi organisasi di sekolah.

Ternyata, hidup itu…bener-bener nggak bisa disangka-sangka. Suatu siang saat sedang bermalas-malasan sambil nonton film tentang si kembar yang terpisah sejak kecil di Inggris dan Amerika lalu bertemu dalam suatu kamp musim panas—again, lupa judulnya—telefon di rumah Kakek berdering. Ibu. Mengabari kalau Ibu baru aja dapat surat dari AFS-Yayasan Bina Antarbudaya Pusat di Jakarta. Saya lulus, sampai tingkat nasional. Dan tahapan selanjutnya tinggal memilih negara tujuan—ada 9 negara pilihan dan saya diminta membuat prioritas negara yang paling diinginkan hingga yang paling nggak diminati—lalu seleksi di negara-negara tersebut juga pembiayaan—beberapa sumber pendanaan akan memilih sendiri kandidat yang mau mereka biayai—dan pengurusan berbagai hal di negara tujuan: keluarga angkat, sekolah, dan lain-lain. Subhanallah. Saya, seperti kakak-kakak juri saat talent show beberapa bulan sebelumnya, speechless. Geleng-geleng kepala nggak percaya, itu kakak-kakak mikir apa sih sampai meluluskan saya? Hehehe. Alhamdulillah. Emang kalau rezeki nggak bakal kemana.

Alhamdulillah selanjutnya perjalanan lebih mudah. Saya dapat negara pilihan pertama saya, Jepang, cepat dapat sponsor—ASEAN, yang berbaik hati ngasih saya allowance pula tiap tiga bulan juga ngasih bonus trip ke Osaka dan Kyoto untuk tinggal bareng keluarga angkat dan nyoba sekolah disana juga ngasih saya hadiah kamus Kanji, cepat dapat keluarga angkat—keluarga Kasahara yang ramai dan seru dengan Papa yang pintar, senang berbagi, dan jago memasak, Mama yang cantik, mandiri dan ahli merangkai bunga (guru Ikebana), dan tiga kakak perempuan yang baik. Saya juga segera mendapatkan host school, Niigata Seishin Girls High School. Sekolah swasta khusus perempuan! Wuah. Seumur-umur saya selalu sekolah di sekolah negeri dan sejak lama selalu ingin merasakan gimana rasanya sekolah di sekolah swasta, dengan teman perempuan semua. Pasti menyenangkan! J

Dari Bandung ada empat orang yang akhirnya dikirim selain saya, Rima dari SMAN 5 Bandung untuk program sebulan ke Jepang, Vivin (teman sekelas saya di SMAN 3) dan Hayu dari SMAN 5 ke Amerika Serikat, dan Ratih (SMAN 3) ke Australia. Rima berangkat bulan Desember 2003, saya bulan Maret tahun 2004 (tanggal 17 Maret! Kalau ini saya ingat betul), sedangkan teman-teman lain berangkat bulan Agustus tahun yang sama. Saya berangkat di tengah tahun ajaran, meninggalkan kehidupan akademis yang seru di kelas 2-6 (dan Aki, Mpus, Kuskus, Ngadi anggota geng Bodoh lain—jangan Tanya kenapa namanya itu), dan kehidupan organisasi yang juga lagi asik-asiknya—saya mundur dari Belitung Muda beberapa bulan sebelumnya dan terpaksa pula meninggalkan masa kepengurusan MPK bareng Hilman dan Imam (aaaah, ini yang paling bikin nggak enak!).

Ibu masih berpikir sangsi, apa iya anak ini bakal bisa bertahan sendirian di negeri asing selama setahun. Ayah khawatir karena merasa saya masih terlalu kecil, lima belas tahun dan ini pertama kalinya saya keluar negeri. Nenek geleng-geleng kepala nggak mengizinkan tapi tahu nggak bisa berbuat apa-apa. Sementara Kakek tersenyum bangga dan menepuk-nepuk saya. Aaaaah Kakeeeeek, itulah saat saya terakhir bertemu Kakek di dunia, karena November tahun yang sama, Kakek meninggal karena kanker paru-paru. Hikshikshikshiks. T______T

Ayah menangis memeluk saya di bandara. Membekali saya begitu banyak buku dan berpesan agar saya rajin baca Qur’an, itu yang akan menjaga saya baik-baik, pesan Ayah. Saya manggut-manggut, sudah nggak terlalu connect dengan kondisi sekitar karena benak saya udah dipenuhi antusiasme tentang apa yang bakal saya temui di negeri nun jauh itu. Hehe, maaf Ayah.

Dan berangkatlah saya akhirnya! Menekan tombol pause di kehidupan saya untuk merasakan kehidupan lainnya.

Kamis, 11 Agustus 2011

Hidup Saya 4: Gimana Rasanya Jadi Anak SMAN 3? (1)

Gimana rasanya jadi anak SMAN 3 Bandung? Menyenangkan, hehehe.

Serius. Melebihi rasa senang karena impian sejak jaman SD terwujud, di antara sekian banyak hal-hal yang unpredictably great dalam hidup saya, menjalani masa-masa sebagai siswa SMAN 3 Bandung adalah salah satu yang terbaik. Salah satu yang paling mengubah hidup. Yang paling membentuk karakter dan perspektif, dan oleh karena itu, paling saya syukuri. J

Masa-masa awal…

Saya masuk SMAN 3 Bandung sebagai NEM tertinggi perempuan di SMP saya dan itu memperkuat kepercayaan diri untuk memasukkan aplikasi tanpa banyak keraguan lagi—ini toh yang saya inginkan sejak SD, ini juga alasan saya mau pindah kembali ke Bandung dan ‘bela-belain’ pakai kerudung hehehe—tapi faktor itu nggak lantas membuat saya langsung aktual di sekolah ini. Begitu diterima, saya langsung tahu bahwa peringkat NEM saya ada di nomor 60 dari sekitar 400 siswa. Pada akhirnya, dari 40an siswa di kelas 3C (kelas unggulan di SMPN 3 Bandung), hanya 20 yang masuk SMAN 3 Bandung. Jangan tanya kelas lain. Sementara siswa baru yang berasal dari SMP di Jalan Sumatera? Jangan tanya juga gimana bejibunnya. Hahaha. Belum lagi yang berasal dari SMP negeri bagus daerah Buah Batu, Taman Pramuka, Ambon (hahaha kenapa nggak disebut aja sih), sekolah swasta Kristen/Katolik, anak-anak luar kota yang jenius dan bahkan luar negeri. Wuiih. Semua orang tampak pintar bersinar, cerdas cemerlang, percaya diri dan aktual. Jiper? Nggak, saya makin excited. Hehehe.

Sejak awal saya udah memikirkan apa alasan yang mendorong saya mendaftarkan diri ke sekolah ini. Bukan semata-mata karena ini sekolah favorit dan bakal jadi prestise kalau bisa tembus, hmmm, sejujurnya itu nggak begitu kepikiran. Saya begitu ingin masuk sekolah ini karena saya mencari lingkungan kondusif yang kompetitif tapi tetap fair dan seru. Saya percaya lingkungan itu bakal berpengaruh banget untuk perkembangan diri seseorang. Dan saya pengen banget diri saya bisa terbawa baik, terdorong untuk jadi baik dan berkembang selama sekolah disini. Saya nggak terlalu peduli apakah saya bakal dapet peringkat atas atau nggak. Yang penting belajar dan berkembang.

Nah, ini, seperti yang saya ceritakan di posting sebelumnya, agak berbeda dengan apa yang sahabat saya ketika SMP pikirkan. Buat dia, yang penting tetap bisa unggul di lingkungan ‘rata-rata’, daripada jadi orang rata-rata di lingkungan unggul. Saya ngga setuju nih. Unggul itu kan relatif, dan saya mau standar saya tinggi supaya saya terus terpacu untuk jadi lebih baik dan nggak cepat puas. Kita kan nggak akan selamanya ada di SMA, masa SMA itu in fact Cuma sebentar dan pada akhirnya kita bakal lulus juga, masuk ke dunia kuliah dan lalu ke dunia nyata. Jadi hati saya nggak sepakat kalau menjadikan pencapaian masa SMA sebagai standar mutlak (apalagi itu relatif juga), yang penting adalah kualitas proses belajarnya (karena dari kultur akademis dan kesiswaan itu justru kita banyak belajar) dan output ketika keluar (mulai dari masuk kuliah dimana, gimana learning attitude ketika kuliah, dst). Ada sedikit contoh.

Di SMA 3, sejak awal saya dapat kesan seolah-olah semua anak diarahkan untuk memilih ITB atau Kedokteran. Kalau nggak memilih itu, pasti akan dipertanyakan dengan muka bersimpati, “Kenapa?”. Di satu sisi, ini mengandung sisi kurang bagus juga karena seolah iklim sekolah menggiring anak-anak untuk terhomogenisasi: lulusan yang sukses itu ya kalau nggak masuk ITB, ya kedokteran, sementara itu jelas nggak tepat. Bukan ITB atau kedokterannya yang penting, tapi apakah kita bisa masuk kuliah di tempat yang bener-bener sesuai dengan minat dan talenta kita dan bisa menempa diri kita sebaik-baiknya di tempat kuliah itu untuk berkarya di masa depan. Itu satu sisi. Tapi di sisi lain, ‘tradisi’ ini juga sangat empowering.

Menyadari standar minimum di SMA 3 adalah ITB atau kedokteran akan membuat kita terpacu. Ok, itu bisa jadi target! Mengetahui bahwa tiap tahun 80% lebih lulusan SMA 3 pasti tembus PTN favorit membuat kita bertekad, Saya juga mau jadi bagian dari statistik itu!!! Kira-kira demikian.

Seperti yang saya tulis juga di posting sebelumnya, sejak tercerahkan oleh artikel majalah Gadis ketika kelas 2 SMP, saya bener-bener memikirkan terus gimana caranya bisa mengaktualisasi diri. Sebagai anak pindahan, saya nggak punya banyak kesempatan untuk ikut aktif di organisasi kesiswaan, jadi saya hanya mengisi waktu saya dengan belajar, latihan karate, dan main ke rumah teman. Ada episode mengikuti beberapa lomba dan menang ketika kelas 3 SMP memang, tapi itu Cuma beberapa saat. Saya belum ngerasa puas karena saya belum merasa sudah benar-benar bisa berkontribusi untuk komunitas. Saya percaya, aktualisasi diri itu adalah berkontribusi.

Nah, SMA 3 itu juga sekolah yang mentereng dari segi dinamika ekstrakurikulernya. Ini saya kagumi sampai sekarang karena menurut saya, dinamikanya bahkan melebihi dinamika kemahasiswaan di kampus saya sekarang (sedih sebenernya). Semua orang Nampak total dengan kehidupan ekstrakurikulernya masing-masing, menghargai talentanya dan having fun. Saya akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Musyawarah Perwakilan Kelas (MPK) karena ingin mendalami seluk-beluk keorganisasian formal; DKM Al Furqan untuk belajar Islam (pastinya) karena saya ngerasa tertantang juga, udah hampir dua tahun pakai kerudung masa ngga ada peningkatan kualitas keislaman; dan belakangan kemudian bergabung dengan Belitung Muda (ekskul sepakbola)sebagai manajer dan talent scout. Ini bener-bener masa yang menyenangkan dan penuh pembelajaran. J

Kelas 1, superb starting point!

Kelas 1 adalah kelas terbaik selama SMA. Saya masuk kelas 1-8, dengan ruangan terpencil di bangunan milik SMAN 5 Bandung, satu-satunya ruangan kelas SMAN 3 yang berlokasi disana. Tapi keuntungannya, selain dekat dengan masjid Masiina Shalihin (masjid bersama SMAN 3 dan 5), keterpencilan kami secara geografis dari kelas-kelas 1 lainnya justru membuat kami sekelas sangat dekat. Saya kenal dengan baik semua teman di kelas dan punya beberapa sahabat sangat dekat yang hingga kini masih berkomunikasi dengan intens. Saya selalu duduk berdekatan dengan Fenny, Ajeng dan Nihal dan kami berempat secara rutin bertukaran buku yang isinya curahan pemikiran dan perasaan kami sehari-hari. Menyenangkan. J Selain itu, saya juga pertama kali berteman dengan Zaenab, salah satu sahabat terbaik dalam hidup saya disini. Hingga kuliah di Kedokteran Unpad, kami masih terus bersahabat dekat.

Saya turut berkontribusi sebagai pengurus kelas, divisi kebersihan dan sukses bersikap sangat strict selama setahun. Lumayan, kelas kami termasuk salah satu kelas terbersih saat itu. Hehehe. Sahabat saya Imam dan Chantika bergantian menjadi ketua kelas. Bersama dengan Bayu yang saat itu mengemban amanah sebagai ketua Rohis kelas, kami berempat adalah representasi 1-8 untuk MPK sekolah. Kami tim yang solid, baik di dalam kelas maupun luar kelas. Di dalam kelas, kepengurusan kelas mengadakan program untuk menjadikan tiap hari sebagai hari seseorang, dan seluruh kelas diminta menulis sesuatu untuknya, baik kesan, nasihat, kritik, atau pujian. Saya, Imam dan teman-teman lain juga bahu-membahu mengurus tim sepakbola kelas. Saat itu saya ditunjuk menjadi manajer sepakbola kelas. Lucunya, nggak hanya ­in-charge mengatur line dan rotasi pemain saat pertandingan (terutama futsal), kami juga sering pakai waktu istirahat untuk main game sepakbola—bergantian menyebut nama pemain sepakbola, dan yang mentok itu yang gugur. Dan beberapa kali saya menaang. Hohoho. Selain itu, kami juga menghidupkan Rohis. Kegiatan terakhir ini didukung juga oleh divisi Rohis dari DKM AF yang sangat suportif.

MPK merupakan starting point saya dalam kehidupan berorganisasi, sesuatu yang menjadi sangat lekat dalam kehidupan saya tahun-tahun berikutnya. MPK saat itu diposisikan seperti DPR dalam struktur pemerintahan Indonesia, meskipun senior selalu bilang, zaman dulu MPK itu posisinya seperti MPR dan harusnya memang demikian. Ya biarlah, sebagai anak kelas 1, saya belajar saja dulu. Pada awalnya saya masih banyak diam untuk beradaptasi, tapi syukur, itu tidak berlangsung terlalu sulit. Teman-teman baru yang saya temui sangat bersahabat dan terbuka, kakak-kakak kelas juga amat ramah dan menginspirasi. Satu hal yang amat berharga, saya merasa dipercaya disini. Dan perasaan dipercaya itulah yang kemudian saya rasa, banyak membantu proses unleashing berbagai potensi saya. Saya merasa ‘ditemukan’ dan dihargai disini. Saya cepat merasa kerasan, bisa menganggap MPK seperti rumah saya. Sense of belonging, itu istilahnya.

Sampai saat ini, kalau ditanya, “Kenapa memutuskan masuk MPK dan bukannya OSIS?”, jawaban saya nggak akan cukup bagus. Hehehe. Alasan saya simple dan sempit, “Karena MPK buka rekrutmen lebih dulu,” selain karena ada nama-nama kondang sejak zaman MOST yang juga saya lihat di MPK, seperti Kang Oki Earlivan, Kang Iwa Kartiwa, juga Teh Kartika Akbaria. ^^ Apapun alasan awalnya, ini adalah starting point yang tepat. Tahun-tahun berikutnya, kami membentuk tim yang sangat kuat dan bahkan disebut ‘lebih kuat dari OSIS’ saat itu. =p #abaikan

Kiprah di MPK saya mulai dengan menjadi kepala komisi V, yang bertugas mengawasi dan bekerjasama dengan seksi V OSIS, yang saat itu diketuai Kang Jaka Arya. Anak kelas 1 mengawasi kakak kelas 2? Hueee. Apalagi Kang Jaka itu panitia MOST yang eksis luar biasa, sementara saya newbee tidak berpengalaman. Sungguh sulit. Hehehe. Tapi kakak-kakak kelas yang saya temui kemudian ternyata bersikap sangat rendah hati dan mau membimbing. Saya berinteraksi dengan mereka tidak hanya dalam urusan organisasi, tapi juga di luar organisasi, misalnya bertanding main scrabble!! Hanya satu lawan yang belum pernah bisa saya kalahkan, yaitu Kang Oki ketua MPK itu—dan baguslah, sebab Kang Oki harus mempertahankan reputasinya sebagai alumni Inggris. Hehehe. Tahun yang menyenangkan. J

Tahun ini pula, 2002, saya mulai mengikuti kegiatan mentoring. Saat itu mentor saya adalah kakak kelas saya, angkatan 2004, Teh Krisna Adiarini (Teh Nana) dan Teh Fetri. Mereka berdua adalah mentor yang baik, membumi dan menginspirasi. Teh Nana adalah salah satu teladan saya di sekolah, sudah seperti kakak saya sendiri, sementara Kang Oki adalah senior dan pembimbing di MPK, juga sudah seperti kakak sendiri, makaaa ketika beberapa tahun kemudian mereka menikah, itu benar-benar jadi kejutan yang menyenangkan untuk saya!! Hehehe. Alhamdulillah. Sayangnya, saya kelas 1 ini masih banyak belum ‘mudeng’. Meskipun mentoring adalah aktivitas yang seru, tapi saya belum menjadikannya sebagai sebuah prioritas. Mentoring ini statusnya wajib dan rutin diadakan setiap waktu Jum’atan, dan masalahnya, setiap Jum’at pula kegiatan belajar di sekolah selesai lebih cepat. Jadi, sering sekali teman-teman alumni SMP kemudian bersepakat untuk berkunjung ke SMP, dan saya…selalu ingin ikut. Ditambah dengan beberapa kali ada rapat MPK. Jadilah, beberapa kali saya absen mentoring… Fiuh.

Bulan April tahun 2003, semester kedua kelas 1, ada dua momen penting terjadi. Pertama, Latihan Kepemimpinan Siswa. Kakak-kakak kelas selalu bilang, hidup mereka nggak pernah sama lagi sejak ikut LKS, jadi sejak jauh-jauh hari saya sudah antusias mempersiapkan diri (mempersiapkan mental, maksudnya) untuk mendaftar. Apalagi kemudian ternyata ditunjuk menjadi komandan siswa (dansis) bersama Imam, makin semangatlah saya. Kerjaan saya saat itu bertambah, ngider-ngider tiap kelas tiap jam istirahat untuk menyebarkan informasi, dll. Nambah teman, nambah pengalaman. Senaaang. :D

LKS bukan kegiatan yang ringan. Ada kegiatan selama dua minggu (CMIIW) yang harus diikuti sepulang sekolah, terdiri atas kegiatan fisik (seperti berlari, membentuk formasi, dll) dan pemberian materi (yang sungguh-sungguh enlightening, untungnya), dengan kakak-kakak kelas yang tiba-tiba menjadi ekstra strict. Kami dituntut untuk bergerak sigap, berpikir cepat di bawah tekanan, terus bersemangat dengan beban fisik yang terus ditambah berat, sambil tetap saling memperhatikan satu sama lain dengan teman. Apalagi saya Dansis, saya harus bertanggung jawab atas seluruh teman-teman saya. Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat kami ber-40 (again, CMIIW, it’s been more than 8 years ago!) harus minum dari satu botol yang sama. Hahaha. Saat itu rasanya segala indera sensitive saya, saya nonaktifkan dulu. =p Kami ditempa demikian keras sebenarnya untuk kebaikan kami sendiri juga, sebab, tidak berakhir di dua pekan itu, LKS kemudian juga dilanjutkan dengan fase penempaan di alam, yang tidak kalah challenging dan menyiksanya. Menyiksa mental, salah satunya. Oh bukan menyiksa, menempa! Hohoho.

Momen kedua yang juga penting yang terjadi di bulan ini adalah, pendaftaran AFS! Seleksi pertukaran pelajar selama beberapa bulan hingga setahun ke negeri asing. Awalnya saya sempat berniat mengurungkan niat saya mendaftar, karena kesibukan LKS dan pelajaran yang menggila, tapi kontemplasi singkat pada suatu sore hening—yang sebenernya adalah sesi evaluasi tapi pikiran saya malah ngelantur kesini—kemudian menguatkan lagi tekad saya untuk menjajal kesempatan ini. Tanpa ekspektasi! Lulus syukur—bener-bener syukur tentu—nggak lulus juga ya gapapa, nothing to lose. Hehehe. Saya kepikiran daftar juga karena waktu itu lagi asyik-asyiknya ngurus tim sepakbola kelas dan baca komik sepakbola Jepang Shoot!, Offside dan Kapten Tsubasa dan penasaran gimana sih sebenarnya klub sepakbola SMA di Jepang. =p Selain tentu, alasan-alasan idealis lain yang bikin saya penasaran dan pengen mencoba belajar disana. Nantilah saya ceritakan di posting tersendiri tentang AFS ini.

Begitu banyak hal terjadi selama setahun ini. Setahun yang betul-betul kaya; kaya pembelajaran, kaya kegembiraan. Selama setahun itu saya bener-bener berkembang jadi pribadi baru, yang setidaknya nggak secupu tahun sebelumnya. Contoh sederhana, awal SMA saya masih menggantungkan suasana emosional/mood saya hari itu pada gimana sikap orang terhadap saya atau apa kejadian yang terjadi hari itu. Kalau ada aja satu kejadian nggak menyenangkan, mood saya bakal rusak dan saya bakal bête seharian. Nggak peduli. Hal ini berubah sejak saya baca buku 7 Habits for Highly Effective Teens dan Don’t Sweat the Small Stuff for Teens dan kemudian ikut LKS. Ada chapter tentang bersikap proaktif di buku 7 Habits yang betul-betul berkesan, dan kemudian diperkuat dengan pembahasan mengenai ‘Jangan Muntahi Teman!’, ‘Berdamai dengan kesalahanmu!’ dan pembahasan-pembahasan lain di buku Don’t Sweat. Sejak itu saya belajar untuk lebih bertanggung jawab atas diri saya sendiri.

Segala hal yang terjadi selama setahun kelas satu ini membimbing saya untuk belajar juga tentang takdir, bahwa everything happens for a reason, hidup mungkin Nampak random, tapi sebetulnya ia terangkai dalam suatu desain Maha Agung, yang mungkin nggak bisa langsung kita pahami maknanya saat itu, tapi dengan positivity suatu saat akan kita temukan juga mengapa.

Awal kelas 1, saya sempat mengikuti seleksi masuk kelas akselerasi—ya itu, menyelesaikan SMA dalam waktu 2 tahun. Kenapa mendaftar? Kalau dipikir sekarang, nggak ada alasan kuat juga selain kecenderungan impulsif saya aja untuk mencoba setiap kesempatan yang ada. Nyatanya, saat dinyatakan nggak diterima karena nggak mendapat rekomendasi dari guru, saya bener-bener kecewa dan nggak bisa berhenti menangis di tangga menuju kelas 1-8. Sampai ada teman yang melihat dan mereka merubung saya untuk menghibur. Hehehe. Nggak berhenti disana, sampai beberapa saat kemudian saya masih terus larut dalam perasaan kecewa.

Baiknya Allah, Dia nggak membiarkan saya bertanya-tanya terlalu lama. Setahun kemudian, jelaslah semuanya. Kalau saya masuk kelas akselerasi, saya nggak akan bisa sedemikian aktifnya dalam organisasi kesiswaan sekolah dan berkembang seperti saat itu, saya nggak akan mengalami masa-masa menyenangkan jadi bagian kelas 1-8, dan saya nggak bisa ikut seleksi AFS! Pelajaran berharga…

Minggu, 07 Agustus 2011

Seri Negara: Jizyah

Random banget ya ini? Hehehe. Nggak sih, suatu malam diantara sleepless nights lain sejak dirawat di RS beberapa hari lalu, tiba-tiba aja saya tergerak untuk membuka buku besar berwarna oranye yang untuk beberapa lama sudah jadi penghuni tetap rak buku di rumah: Buku Pintar Islam terbitan Mizan. Saya tekuri bab-babnya dan akhirnya sampai juga dalam bab tentang syariah, dengan jizyah sebagai salah satu sub-babnya. Karena saya pikir nggak terlalu ada kaitannya dengan kehidupan keseharian saya, tadinya...bab ini mau saya skip aja, tapi...sesuatu menggerakkan saya untuk terus membaca.

Dan kalian tahu? Setelah membaca bab itu, saya terdiam, terpesona. Ah, belakangan ini mulai muncul lagi hiruk-pikuk perdebatan negara agama, ya? Sebegitu banyak orang alergi terhadap alternatif negara Islam, tanpa mereka betul-betul paham gimana indahnya kehidupan di era pemerintahan Islam jaman dulu. Kita ini generasi ahistoris, sih... Nah, wawasan baru tentang jizyah ini makin membuat saya speechless.

Jizyah diambil dari kata al jazaa, secara etimologis artinya balasan. Sementara secara terminologi atau istilah, ia berarti 'sejumlah uang yang dibayar oleh orang yang masuk ke dalam perlindungan umat Islam, baik Ahli Kitab maupun yang lainnya'.

Jizyah disyariatkan dalam al Quran surat at Taubah ayat 29, dan dijelaskan pula dalam sunnah. Rasulullah SAW dan para khalifah penerusnya mengambil jizyah dari orang Majusi, Persia, dan lain-lain.

Sampai sini, ini masih common knowledge yang saya sudah tahu sejak masih duduk di bangku sekolah. Apa yang stunning sebenernya? Saat saya mendalami konsep dan hakikat jizyah itu sendiri....

Jizyah dibayarkan hanya oleh masyarakat non-muslim yang mampu berperang, namun tidak dikenai kewajiban berperang (wajib militer) untuk melindungi tanah air karena kewajiban berperang atau berjihad bagi umat muslim adalah kewajiban ideologis, kewajiban akidah. Nah, sebagai bentuk alternatif kontribusi mereka dalam mempertahankan negara, mereka wajib membayar jizyah. Oleh karena itu, perempuan, anak kecil, orang tua, orang cacat dan pendeta yang menyibukkan diri di tempat ibadahnya tidak dikenai kewajiban ini.

Selain sebagai pengganti kewajiban berperang, jizyah juga difungsikan sebagai pengganti kewajiban zakat dalam kontribusi moneter. Demikian.

Bagian yang paling mengharukan adalah ketika membaca konsep bahwa jizyah hanya wajib dibayarkan selama pemerintah dapat memastikan perlindungan bagi warga non-muslim tersebut. Khalid bin Walid ra menyatakan, "Jika kami melindungi kalian, kami berhal mendapatkan jizyah, jika tidak maka tidak."

Ada kisah pula tentang kebijakan Abu Ubaidah, panglima Arab ketika itu saat negara dikepung tentara Heraklius. Beliau memerintahkan agar jizyah seluruh masyarakat non-muslim dikembalikan. "Kalian telah mensyaratkan kepada kami untuk melindungi kalian, tetapi kami tidak mampu melakukannya. Kami mengembalikan apa yang telah kami ambil dari kalian. Kami akan memegang syarat kalian dan janji yang telah ditulis antara kami dan kalian jika Allah mengalahkan mereka."

Bagaimana respon umat Nasrani ketika itu?
Mereka menjawab, "Mudah-mudahan Tuhan mengembalikan kalian kepada kami dan membantu kalian untuk mengalahkan mereka (bangsa Romawi). Jika umat Islam adalah bangsa Romawi, pasti mereka tidak akan mengembalikan sedikit pun kepada kita dan mengambil segala sesuatu yang kita miliki."

Betapa adilnya, betapa indahnya! I'diluu, huwa aqrabu littaqwaa, BE JUST, THAT IS NEXT TO PIETY, berlaku adillah, adil itu lebih dekat kepada takwa. Ah, seandainya ini jadi bahan refleksi bagi pemerintah Indonesia saat ini tentang kewajiban melindungi rakyatnya...


Hidup Saya 3: Being Anak SMP, Being Ordinarily Contradictory (3)



Ini adalah bagian terakhir kehidupan SMP, kehidupan transisi, juga bagian terbaik. :-) Di akhir masa kelas 2, diadakan placement test lagi di sekolah, dan alhamdulillah saya bisa masuk kelas unggulan. Ini momentum penting untuk saya, sebab saya sadari betul bahwa lingkungan kondusif amat berpengaruh bagi optimalnya pertumbuhan diri seseorang. Di kelas ini semuanya pintar dan rajin, punya talenta dan berani--sebuah batu loncatan berharga sebelum mempersiapkan diri masuk SMA 3 Bandung tahun depannya.

Sejak kecil meski punya prestasi akademis yang terjaga baik, sejujurnya saya nggak pernah mengkonsiderasi diri saya sebagai seorang yang pintar apalagi jenius. Adaptif dan tekun sudah cukuplah. Jadi, perasaan saya biasa saja ketika semester berikutnya, saya yang biasanya selalu masuk tiga besar, tiba-tiba 'hanya' mendapat peringkat ke 8 di kelas unggulan ini. Ah, orientasi saya jelas, saya mau mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk masuk SMA 3 tahun depan. Yang penting saya terus belajar dan optimis, berani dan menikmati hari-hari terakhir sebagai siswa SMP, yang penting saya nggak kalah usaha dari teman-teman lainnya. Waktu itu ada satu quote yang selalu jadi penyemangat belajar dari guru bahasa Indonesia saya, bu Endah, "Jangan berhenti belajar. Jangan merasa malas. Jangan merasa cukup. Bisa jadi saat kamu berhenti, teman-temanmu sedang berpacu. Kompetitor-kompetitormu sedang berlari bersiap. Jadi kamu harus terus siaga dan maju!" Ah, terima kasih ya Bu Endah, quote ini telah berhasil menyelamatkan saya dari situasi semalas apapun. :-)

Di Bulan April, beberapa siswa paling unggul di kelas dipanggil untuk persiapan kompetisi cerdas cermat antar siswa SMP di Jawa Barat. Saya, yang hanya peringkat 8, tidak punya ekspektasi apapun. Tidak dipanggil ya tidak apa-apa, target saya SMA 3 kok. Hehehe. Tapi ternyata, dipanggil juga. Kok bisa? Beberapa teman juga bertanya-tanya. :p Rupanya, karena para guru memandang kemampuan bahasa Inggris saya adalah (salah satu) yang terbaik di kelas, dan untuk memperkuat tim unggulan Adit (juara umum sekolah sejak kelas 1) dan Ibnu (yang jenius), saya akan jadi komplemen yang mumpuni untuk diandalkan dalam bahasa Inggris. Hehehe, jadilah saya ikut kelas persiapan intensif juga.

Ternyata, alhamdulillah!! Tim kami berhasil memenangkan kompetisi tersebut dan menyabet gelar juara pula di kompetisi-kompetisi berikutnya: Quiz Contest di UPI, juga cerdas cermat kebudayaan yang diselenggarakan STIE-EMINEN. Senang juga. :)

Apa bagian paling menyenangkan?
1. Bisa menyumbangkan piala dan menorehkan prestasi atas nama sekolah,
2. Bisa jadi motivation-booster bahwa saya juga bisa melakukan sesuatu yang besar, iya...ini yang saya pikirkan sejak setahun sebelumnya, aktualisasi diri...Gimana supaya diri saya ini punya makna, minimal buat lingkungan saya? Dan nggak hanya jadi bagian dari statistik bahwa pernah ada seorang pelajar putri yang bersekolah disini...
3. Bisa dapat sahabat-sahabat dekat, karena sejak setim saat itu, saya, Adit dan Ibnu jadi tim yang luar biasa Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Hehehe. Ini yang priceless. Saya dan Adit kemudian terus menjadi teman sealmamater di SMA 3 Bandung dan FK Unpad, sedangkan Ibnu meskipun melanjutkan ke SMA Taruna Nusantara, Magelang dan UGM selama bertahun-tahun setelahnya tetap rutin berkirim surat.

Satu hal lagi, keberanian dan fokus pada target itu juga jadi hal-hal yang saya ingat pada tahun-tahun itu. Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya tentang gap antara Bandung Utara dan Selatan, sebenarnya ada impact-nya juga bahkan bagi remaja SMPnya. Setelah masuk SMA 3 tahun depannya dan bertemu dengan anak-anak pintar se-Bandung, Jawa Barat dan bahkan Indonesia, saya bisa membandingkan. Anak-anak elit sekolah Bandung Utara lebih berani bermimpi besar dan bercita-cita tinggi. Saya ingat sebuah episode di laboratorium biologi saat di kelas unggulan, kelas 3 SMP.

Guru biologi menatap mata kami semua. "Acungkan tangan yang mau masuk SMA 3 Bandung!"
Saya pikir, tadinya saya nggak punya keraguan bahwa akan banyak anak lain yang mengacungkan tangannya, sebab keinginan masuk SMA 3 ini keinginan jamak yang sering diperbincangkan kok, jadi dengan cepat saya acungkan saja tangan saja. Dan betapa terkejutnya! Yang mengacungkan tangan hanya kurang dari 5 anak: saya, Adit, dan beberapa anak lain yang saya tidak ingat lagi siapa.
Guru biologi juga nggak kalah terkejutnya, "Lho? Kenapa kalian ini? Kalian ini kelas unggulan, lho! Untuk apa masuk kelas unggulan kalau bercita-cita masuk SMA 3 aja nggak berani?!"

Haah. Mirisnya.

Waktu saya lulus SMP, percaturan nilai kelulusan masih 'normal', belum supranatural seperti sekarang dimana rata-rata nilai anak-anak bisa mencapai lebih dari sembilan koma, atau bahkan nilai sempurna. Oh ya bukan rahasia lagi sebenernya, kunci jawaban beredar sebelum ujian, dan makanya banyak anak yang prestasi akademis kesehariannya sebenernya memprihatinkan, tiba-tiba aja dapet nilai kelulusan yang melejit.
Tapi apakah itu berpengaruh terhadap keberanian mereka?
Nyatanya nggak.
Itu nggak membuat mereka lebih yakin mendaftarkan diri masuk SMA 3 Bandung--saya sebut sekolah ini terus karena memang ini sekolah yang selalu jadi indikator sekolah terbaik di kota Bandung, dan Jawa Barat, dan bahkan Indonesia. :)
Jadi keberanian nggak lantas ada hubungannya secara langsung dengan nilai kelulusan yang tinggi, karena tanpa keyakinan penuh akan kemampuan diri yang murni, mana bisa orang percaya diri berkompetisi? Nah itu satu hal.

Tapi ada hal lain lagi tentang keberanian, dan ini saya lihat pada sahabat-sahabat terdekat saya sendiri, ketika kelulusan SMP dulu. Salah satu sahabat terdekat saya adalah juga langganan juara umum sekolah, selain Adit. Sejalan dengan prestasinya yang memang murni dan kontinu, nilai kelulusannya juga baik. Nggak ada keraguan, insyaallah bisa tembus SMA 3 Bandung. Tapi bagaimanapun saya mencoba meyakinkan sahabat saya ini untuk bersama-sama masuk SMA 3 Bandung, dia tetap menggeleng.
"Nggak deh, aku ke SMA 8 Bandung aja."
Kenapaa?
"Di SMA 3 Bandung, belum tentu saya bisa berkompetisi. Lebih kecil kemungkinan saya bisa tetap jadi juara umum. Lebih baik saya tetap jadi juara di tempat yang lebih kecil, daripada jadi orang 'standar' di tempat besar."
Hmmmmmmm. Saya speechless. Apa iya begitu prinsipnya?

Saya nggak sepakat, dan saya merasa itu bukan prinsip yang benar, tapi saya nggak tahu jawaban yang tepat untuk menjawabnya dan yang terpenting, itu hidup sahabat saya dan dia punya kewenangan penuh untuk ambil keputusan apa saja. Jadi melangkahlah kami di jalan masing-masing.

Setahun berikutnya, di SMA 3 Bandung, saya menemukan jawabannya. Sejak itu saya tidak dapat berhenti bersyukur; atas kenekatan dan keberanian saya. :-) Saya ada di tempat yang tepat. Hehehe.

Hidup Saya 3: Being Anak SMP, Being Ordinarily Contradictory (2)




Hidup SMP saya memang memasuki babak baru setelah pindah ke Bandung. Beradaptasi lagi dengan kota, sekolah dan teman-teman baru sebenarnya bukan masalah yang terlalu besar karena sejak kecil saya dan keluarga memang sudah sering pindah-pindah tempat tinggal--selama SD saja, saya pindah sekolah sebanyak 3x di tiga provinsi berbeda. Hehehe.

Kali ini lebih terasa istimewa sebab, ini tahun pertama saya menjalani hidup sebagai remaja berkerudung--apapun motivasi asalnya. :p Perlu waktu sekitar setahun untuk saya benar-benar menginternalisasi kerudung dalam kehidupan, jiwa dan karakter saya. Sebab, sejak sebelumnya saya sudah punya perspektif sendiri tentang bagaimana seorang berkerudung itu seharusnya berkarakter dan bersikap, dan perjuangan untuk menyamankan diri dengan kerudung itu bermakna juga proses perjuangan untuk bridging (menjembatani) antara karakter saya sebelumnya dengan karakter yang saya pikir saya harus menjadi setelah berkerudung. Hehehe.
Rumit ya, dan terus terang saya baru benar-benar dapat jawaban yang 100% menentramkan hati setelah membaca tulisan Salim A.Fillah tentang Islam dan Pelangi di buku Agar Bidadari Cemburu Padamu bertahun-tahun kemudian. Inti pesannya, Islam itu tidak lantas menjadikan setiap pemeluknya berwarna sama serupa dan monoton, tapi menjadikan potensi putihnya menjadi bersih suci untuk kemudian berkilau dengan warna masing-masing seperti pelangi. Buktinya, karakter para shahabiyah terkemuka pun kan bermacam-macam. :)

Masa SMP itu masa pencarian, itu benar. Selama duduk di bangku SMP saya selalu merasa hidup saya terlalu ordinary, tiap hari sama, rasanya minim makna. Sampai kapan saya akan jadi anak biasa-biasa saja? Saya sekolah pagi setiap hari, pulang sekolah latihan karate, dan kalau ngga ada jadwal, lalu main ke rumah teman. Obrolan dengan teman berkisar antara pelajaran sekolah, gosip-gosip terbaru, kecengan masing-masing, musik dan film. Dalam hati saya merasa nggak puas, tapi betul-betul clueless tentang apa yang harus diperbaiki. Secara kasat mata prestasi sekolah saya terjaga baik, hubungan dengan teman-teman juga akrab dan solid, tapi ya itu tadi, dalam hati belum merasa ada aktualisasi. Minim pencerahan, minim inspirasi.

Kalaupun ada pembelajaran bermakna yang terjadi selama setahun ini, jika saya pikirkan sekarang, itu adalah pembelajaran sosial tentang gap kondisi kota Bandung. Waktu itu saya merasa sangat nggak nyaman melihat bagaimana cantik dan apiknya daerah Bandung Utara seperti Dago dan Setiabudi sementara wilayah Selatan dibiarkan tandus dan kurang terpelihara. Hal ini lebih nyata di mata saya sebab saat itu saya akhirnya memutuskan bersekolah di SMP 3 Bandung (meskipun ikut seleksi dan diterima juga di SMP 2 Bandung). Dan berbeda dengan SMP 2 Bandung yang berlokasi di wilayah elit Bandung dan terdiri pula atas siswa-siswi golongan menengah ke atas di Bandung, SMP 3 Bandung memiliki konstituen siswa hampir seluruhnya dari wilayah Bandung Selatan, yang seperti saya siratkan di atas, terdiri atas masyarakat dengan golongan ekonomi rata-rata menengah ke bawah.
Ah mirisnya, jika kondisi dalam kota Bandung (ibukota provinsi Jawa Barat) saja sebegini timpangnya, apalagi perbandingan kondisi antara Jakarta atau daerah perifer tanah air seperti Maluku atau Papua? Pemikiran dan keprihatinan ini bertahan sejak berseragam putih biru hingga kini, karena rasanya belum banyak kemajuan berarti meski bertahun-tahun sudah berlalu. Semoga suatu hari nanti saya bisa jadi bagian orang-orang yang memperbaiki kondisi ini. Amin.

Pencerahan yang dinanti-nanti akhirnya muncul di suatu malam, saya kira di bulan Desember atau Januari, dari majalah Gadis! Agak berbeda dari transisi usia normal, saya berhenti baca majalah Bobo kelas 3 SD, dan beralih pada tabloid Bola atau GO. Kelas 5 SD, saya mulai sesekali membeli majalah Kawanku dan Gadis, dan berlanjut hingga kelas 3 SMP. Dan ini bagaimananapun, termasuk hal baik pula, sebab saya mendapat pencerahan hidup dari salah satu edisi tahunan majalah Gadis! (noted,saat itu majalah-majalah yang saya sebutkan di atas belum jadi majalah yang berisi mayoritas artikel fashion atau gosip, seingat saya unsur pengembangan dirinya masih lebih kental)

Di majalah itu pertama kali disebutkan kalau sebagai remaja kita harus bertanggung jawab terhadap pengembangan kualitas diri sendiri dan kemudian, bagaimana hidup itu harus dijaga seimbang seluruh dimensinya. Mulai dari dimensi intelektualitas, jiwa (spiritualitas), sosioemosional dan fisik. Lengkap pula dijabarkan bagaimana contoh kiat-kiat dan aktivitas bagaimana mengembangkan setiap dimensi tersebut. Wah!!

Malam itu rasanya kamar tidur saya terang benderang. Pikiran saya tiba-tiba terasa terbuka lebar. Lalu saya menangis, menyadari betapa selama ini hidup saya belum dioptimalkan, dibiarkan berjalan begitu saja, taken for granted, as it flows. Saya berdoa sungguh-sungguh pada Allah swt semoga saya masih diberi kesempatan hidup hari-hari esoknya, supaya saya masih dapat mencoba menerapkan pesan yang saya dapat di Majalah Gadis itu. Agar saya masih dapat mencoba berusaha mengoptimalkan hidup saya. :)

Sejak itu, saya rasa hidup saya nggak pernah sama lagi. :)